Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Pramuka Mendidik

|

Pendidikan Pramuka

Bila ditanya kejadian atau hal apa yang menjadikanmu seperti sekarang ini, maka salah satu jawabannya adalah aktifnya aku dalam kegiatan kepramukaan pada masa-masa SMP dan MA. Walaupun saat duduk di bangku Madrasah Aliyah aku tidak seaktif seperti waktu SMP dalam mengikuti kegiatan Pramuka, namun juga banyak pendidikan yang aku peroleh dari kegiatan itu.

Ada banyak pendidikan yang aku peroleh dari Pramuka. Yang pertama kemandirian, saat mengikuti kegiatan Pramuka aku sering mengikuti perkemahan yang dituntut untuk bisa mengurusi diri sendiri. Selanjutnya, pendidikan ketaatan, selain ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan sekolah, dalam Dasa Dharma Pramuka yang pertama juga diajarkan untuk taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, Pramuka juga mengajarkan keberanian, saat mengikuti Pramuka banyak kegiatan yang mewajibkan untuk tampil di depan banyak orang. Yang terakhir dan pasti didapatkan dari mengikuti Pramuka adalah kreativitas, sering aku ditugaskan untuk membuat karya-karya yang bisa mengasah kreativitas dan inovasi.

Itulah beberapa hal-hal dari kegiatan kepramukaan yang memberikan pendidikan pada diri saya pribadi dan semoga anak-anak lain yang mengikuti kegiatan Pramuka dapat mengambil manfaat yang lebih banyak. Dan itulah Pramuka yang telah mengambil bagian dalam menjadikan aku seperti sekarang ini.

Lanjut membaca “Pramuka Mendidik”  »»

kembali

|


KEMBALI KEPADA AL-QURAN

Ketika awal sekali kita diciptakan dan dilahirkan oleh Allah SWT di dunia ini, kita adalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, tidak tahu siapa kita, siapa yang telah membuat kita ada, untuk apa kita diadakan dan pertanyaan-pertanyaan aneh lain yang baru kita cari tahu, atau mungkin ada sebagian orang yang berusaha untuk mencari tahu pun tidak, seiring dengan bertambahnya masa kita menghabiskan hidup di dunia dan seiring bertambah disempurnakannya akal kita oleh yang mungkin kita saja masih belum tahu siapa yang sebenarnya telah menyempurnakan akal kita saat akal kita mulai sempurna. Ketika masa-masa pencarian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kita lebih banyak memperturutkan hawa nafsu yang mengajak kita ke hal-hal yang justru menghancurkan kita dibanding mempergunakan pertimbangan akal, padahal orang yang cerdas adalah orang yang tidak memperturutkan hawa nafsunya dan senantiasa beramal soleh untuk persiapan hidupnya di kehidupan akhirat kelak. Saat-saat pencarian kebenaran itu dibarengi dengan kulit-kulit yang semakin mengendur dan pandangan mulai kabur, tetapi kita malah semakin terbawa oleh ajakan hawa nafsu, kita semakin jauh dari persimpangan jalan dimana seharusnya disitu kita berjalan lurus tetapi kita malah disetiri oleh hawa nafsu untuk berbelok arah mengikuti jalan yang mengarah pada jurang kemaksiatan, jurang-jurang yang dapat menghancurkan kita.

Dan sekarang sudah saatnya kita kembali kepada jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan yang yang diridhai oleh yang membuat kita menjadi ada, Allah SWT. Allah telah menurunkan petunjuk untuk mengarungi kehidupan ini melalui manusia yang telah dipilihnya, Rasulullah Muhammad SAW, berupa Al-Quran. Dengan Al-Quran inilah kita bisa mengenal siapa pencipta kita, tanpa adanya Al-Quran kita tidak akan mampu mengenal Allah sebegitu dekatnya karena Allah adalah Dzat yang tidak akan terjangkau oleh kita, oleh akal kita, tanpa Allah sendiri yang memperkenalkan dirinya. Dengan Al-Quran kita bisa tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup ini, Al-Quran bagai sebuah buku petunjuk pada sebuah mainan yang menunjukkan bagaimana seharusnya mainan itu dipergunakan yang mana penggunaan yang sesuai aturan itu akan berdampak baik bagi mainan itu sendiri. Melalui Al-Quran kita tahu bahwa kita diciptakan hanya untuk menyembah Allah, kita adalah hamba Allah yang harus menjalankan perintah-perintahnya tanpa protes. Karena kita hanya seorang hamba, hamba yang hanya mengabdikan seluruh hidupnya untuk tuannya.

Baiklah, sudah saatnya kita kembali kepada jalan yang lurus, Al-Quran Al-Karim, mempelajari Al-Quran dengan sebenar-benarnya, semaksimal mungkin, agar kita mendapatkan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Karena semua akan dipertanggungjawabkan...
JEFRI RUSTAM AJI
Teknik Mekatronika
PENS-ITS ‘10

Lanjut membaca “kembali”  »»

Agama Untuk Kesalehan

|

Seorang karyawan perusahaan berlabel agama mengeluh, ''Di tempat pekerjaan saya, hubungan sesama pegawai tidak mencerminkan ikatan batin yang melambangkan ruhama, saling mengasihi. Tiap orang kelemahan yang lain, untuk menjatuhkan dan merebut kedudukan.


Aku tercenung mendengar pengaduan sahabat itu. Ia keluar dari perusahaan lama, karena dianggapnya tidak agamis. Ia sengaja hijrah ke perusahaan berlabel agama, konon untuk beribadah. Ternyata jauh pungguk dari bulan. Di tempat barunya itu agama hanya untuk menggebrak sentimen dan menarik konsumen. Itu berbeda di perusahaan biasa, yang bersifat komersial.

Lantaran dipimpin orang beriman, aroma religius terasa kental. Tiap bulan diselenggarakan pembinaan rohani, untuk menguatkan silaturahmi dan sikap cinta-mencintai. Jika ada karyawan yang tertimpa musibah, semua ikut berduka cita, dan mendoakan dengan ikhlas, bukan menebar fitnah padanya.

Itulah barangkali yang dicemaskan Nabi SAW tatkala bersabda seperti diriwayatkan Ahmad, ''Akan datang suatu zaman menimpa umatku, jika tidak hati-hati, fitnah bakal tersebar luas bagai penggalan malam yang gulita, di pagi hari seseorang mengaku beriman, malamnya sudah kafir, atau malamnya mengaku beriman, pagi harinya sudah kafir. Kalau itu agama dijual untuk memperoleh kesenangan duniawi.''

Di zaman edan itu, agama tidak lagi berfungsi untuk pembinaan pribadi, tetapi sebagai alat mengobarkan emosi demi kesuksesan ambisi. Salat dikerjakan hanya untuk riya, bukan untuk menghadap dan berdialog dengan Tuhan. Jauh sekali bedanya dengan keberagaman Hatim Al Asham.

Suatu saat Isham bin Yusuf berwudhu untuk salat bersama Hatim. Isham heran menyaksikan Hatim tak segera menyelesaikan wudhunya, malah cuma berdiri lama di depan bak air. Sampai akhirnya Isham bertanya, ''Kenapa engkau hanya berlama-lama di situ dan tidak juga berwudhu?''

Hatim menjawab, ''Saya sedang wudhu batin dulu.'' Dijelaskannya, wudhu batin ialah membersihkan jiwa dengan tujuh pembasuh, yaitu tobat, penyesalan, tak silau harta, tak suka dipuji, tak bernafsu menjadi yang terbesar, tak menyimpan dendam dan dengki kepada orang lain. ''Setelah itu, barulah kulakukan wudhu dzahir dengan air.''

Sebelum salat, Hatim mengendurkan dulu seluruh nafsu jasmaninya supaya Ka'bah terlihat di mata hatinya. ''Aku berada di antara hajatku kepada Allah dan rasa takutku. Kubulatkan keyakinan bahwa Ia sedang memandangku, menjanjikan surga di sebelah kananku dan neraka di samping kiriku. Aku juga merasa malaikat maut berdiri di belakang punggungku, siap menjemputku seraya menunggu panggilan Tuhan kepadaku. Karena itu aku selalu berpikir, itulah salatku yang terakhir.''

Mendengar uraian sahabat karibnya itu Isham meneteskan air mata. Oh, betapa damai dunia, jika pengabdian kepada Tuhan dilakukan dengan tulus tanpa pamrih, seperti wudhu dan salat Hatim Al Asham. - ahi



Lanjut membaca “Agama Untuk Kesalehan”  »»